Religi

Daftar Obyek Wisata Religi

Berikut ini daftar obyek wisata religi yang berada di surabaya ;

–Tempat Ibadah

Masjid rahmad

Masjid Rahmad

Masjid rahmad merupakan salah satu tempat ibadah warisan Sunan Ampel yang terletak di jalan kembang kuning nomer 79-81, Surabaya. Sunan Ampel sebelum mendirikan Masjid Ampel terlebih dahulu mendirikan langgar kecil di kawasan kembang kuning. Hal tersebut dilakukan ketika dalam perjalanan menyebarkan agama Islam di wilayah utara, tepatnya ketika beliau mampir di kademangan Cemoro Sewu.

Konon langar kecil atau mushala ini dibangun dalam waktu semalam, sehingga pada pagi harinya masyarakat sekitar terkejut dengan keberadaan mushala tersebut, maka masyarakat menyebut mushala tiban (tiba-tiba muncul), atau ada juga yang menyebut dengan mushala kembang kuning, karena sekitar mushala banyak terdapat bunga berwarna kuning.

Seiring berkembangan zaman, mushla tersebut direnovasi total menjadi bangunan masjid. Sedangkan bangunan masjid yang ada saat ini di bangun pada tahun 1963.

Jl. KH. Mansyur, Surabaya

Masjid Ampel

Masjid Ampel

Masjid Sunan Ampel sendiri didirikan pada tahun 1421 oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel dengan dibantu kedua sahabat karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji ( Mbah Bolong ), dan para santrinya. Di atas sebidang tanah di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel ) Kecamatan Semampir sekitar 2 kilometer ke arah Timur Jembatan Merah

Masjid dan makam Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa agar orang- yang ingin melakukan sholat di masjid dan berziarah dapat merasa nyaman dan tenang.

Bangunan Masjid Sunan Ampel memiliki gaya arsitektur jawa yang dipandu dengan unsur arab.  Masjid sudah empat kali dipugar, tetapi keaslian bangunan ini tetap dipelihara dan di rawat. Masjid Agung Sunan Ampel memiliki keunikan di mana terdapat enam belas tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati yang panjangnya 17 meter tanpa sambungan, diameter 60 centimeter. Angka 17 menunjukkan jumlah raka’at dalam sehari.

Keunikan lainnya adalah masjid ini memiliki 48 pintu itu dipertahankan sesuai aslinya, dengan diameter satu setengah meter dengan tinggi dua meter. Dan Menara setinggi lima puluh meter juga menjadi ciri khas masjid ini. Terdapat Kubah berbentuk pendopo Jawa sebagai perlambang kejayaan Majapahit.

Jl. Indrapura

Masjid Kemayoran

Masjid Kemayoran

Masjid Kemayoran merupakan masjid yang memiliki 3 keunikan; keunikan pertaman, salah satu masjid tertua sesudah Masjid Ampel. Keunikan ke dua, satu-satu masjid yang dibangun pemerintah belanda. Keunikan ke tiga Masjid Terbesar Pertama di surabaya sampai tahun 1905.

Masjid kemayoran ini di bangun pada tahun 1772 berdasarkan karya arsitek J.W.B. Wardenaar dengan gaya arsitektur jawa kuno. Bangunan masjid terdiri dari bangunan utaman, sebagai ruang beribadah dan dua menara yang berada di sisi kiri dan kanan. Dengan ketinggian menara sekitar 70 kaki. Salah satu menara tersebut kemudian runtuh terkena sambaran petir. Sekarang masjid kemayoran memiliki satu menara.

Di dinding dalam masjid kemayoran terdapat prasasti terbuat dari logam  bertuliskan huruf  jawa dan tulisan berbahasa jawa pada masa pemerintahan bupati Temenggung Kromojoyo Dirono.

Masjid Al Akbar

Masjid Al Akbar

Masjid Nasional Al Akbar (atau biasa disebut Masjid Agung Surabaya) ialah masjid terbesar kedua di Indonesia yang berlokasi di Kota Surabaya, Jawa Timur setelah Masjid Istiqlal di Jakarta.

Posisi masjid ini berada di samping Jalan Tol Surabaya-Porong. Ciri yang mudah dilihat adalah kubahnya yang besar didampingi 4 kubah kecil yang berwarna biru. Serta memiliki satu menara yang tingginya 99 meter.

Dari menara ini kita bisa melihat pemandangan kota surabaya dari atas.

Jl. Gading no. 2, surabaya

Masjid Cheng Ho

Masjid Cheng Ho

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya merupakan Masjid pertama di Indonesia yang mempergunakan nama muslim Tiong hoa. Masjid Cheng Hoo memiliki Arsitektur yang menarik dengan perpaduan budaya Islam, China dan Jawa. Hal ini tampak pada dominasi warna merah, hijau dan emas. Hal ini menunjukan eratnya hubungan antara budaya China dan Jawa.

Pada abad ke 15 di masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang tiongkok dari yunan mulai berdatangan menyebarkan Agama Islam terutama di Pulau Jawa. Termasuk Laksamana Cheng Hoo alias Sam Poo Kong yang diutus Yung Lo untuk mengunjungi kerajaan Majapahit. Kesempatan ini dipergunakan juga untuk menyebarkan agama Islam. Nama Sang Lakmana ini kemudian diabadikan menjadi nama Masjid.

Jl. Kepanjen no. 4-6, Surabaya
Gereja Kepanjen

Gereja Kepanjen

Gereja Kepanjen atau Gereja Katolik Santa Perawan Maria merupakan salah satu gereja tertua di surabaya yang di miliki  oleh kota surabaya yang wajib dilindungi dan dijaga kelestarianya. 

Bangunan gereja ini sebenarnya merupakan bangunan yang lebih baru yang digunakan untuk mengantikan bangunan gereja pertama di surabaya yang telah rusak pada waktu itu. Stasinya sendiri dirintis oleh salah satu imam yang pertama mendarat di surabaya, yaitu Pastor Hendrikus Waanders PR.

Gereja ini memiliki bentuk yang masih utuh dan kokoh dengan gaya eropa yang dibangun pada tahun 1822 pada zaman penjajahan belanda.

Jl. Bubutan

Gereja Imanuel

Gereja Imanuel

Gedung Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Bubutan ini diarsiteki oleh Albert Zirmmerman pada 29 juni 1920 dan diresmikan pada tahun 1922.

Gereja ini merupakan pengganti gereja kristen protestan pertama (th 1975) yang terletak di Willemsplein (sekarang menjadi gedung Internatio) pada tahun 1948 berganti nama menjadi GPIB Immanuel hingga saat ini.

Gedung gereja tidak berubah dan masih berfungsi, tetapi ujung menara telah mengalami renovasi dan di tambahkan 2 jendela di bagian atap sumber (brosur surabaya heritage track map, house of sampoerna).

Jl. Samudra No. 51

Gereja Kristus Tuhan

Gereja Kristus Tuhan

Kilas balik GKA Trinitas dimulai sekitar tahun 1910, di mana terdapat beberapa penatua dan jemaat Chang Lao Hui, Fu Jian Xia Men Ji Du Jiao Hui  atau Gereja Presbyterian di Xia Men, Fu Jian. Mereka adalah imigran-imigran Kristen yang merantau sampai di Surabaya. Pada saat itu datang pula missionary dari Gereja Methodist Amerika. Mereka beribadah dengan menyewa sebuah rumah di Kampung Seng, kemudian pindah ke Kembang Jepun. Bahasa atau dialek yang digunakan adalah Amoy / Min Nan / yang kita kenal dengan Hokkian, yang merupakan cikal bakal GKA Trinitas ini.  Selain itu, digunakan pula dialek Kwang Tung, Hok Tjioe dan Hin Hwa. Jemaat ini menamakan diri Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee. Dan pada tahun 1928 didaftarkan di pemerintah Hindia Belanda dengan nama Stichting Chinese Kerk Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee.

Sekitar tahun 1951, gedung gereja pertama di Jl. Bakmi dirasa tidak lagi mencukupi, maka jemaat dari 4 dialek bahasa tersebut merenovasi gedung gereja. Berdirilah gedung gereja Jl. Samudra saat ini, yang mampu menampung kurang lebih 500 jemaat.  Prasasti di Gereja Samudra menyebutkan tahun 1952 gedung gereja selesai didirikan. Prasasti dalam bahasa Indonesia menyebutkan, “pada tahun 1928 dibeli dari Methodist Amerika”, tetapi dalam Bahasa Mandarin dipahat  “dialihkan oleh Methodist Amerika”.

Jl. Coklat, surabaya

Klenteng Hok An Kiong

Klenteng Hok An Kiong

Klenteng Hok An Kiong merupakan klenteng tertua di surabaya yang dibangun tahun tahun 1830. Awalnya kawasan dimana klenteng ini berada menjadi tempat persinggahan bagi pendatang dari Tiongkok. Umumnya mereka membawa serta patung makcho (Dewi Pelindung para pelaut dan Nelayan) untuk disembayangi. Kemudian lambat laut kawasan ini berkembang menjadi pemukiman, sehingga

Dirasa perlu untuk membangun sebuah klenteng sebagai tempat ibadah dan penghormatan pada makcho atau Ma Cou Po atau Thian Siang Seng Bou. Saat ini klenteng Hok An Kiong dikelola oleh Yayasan Sukhaloka. (sumber brosur surabaya heritage track map, house of sampoerna)

Jl. Kapasan, surabaya

Klenteng Boen Bio

Klenteng Boen Bio

Klenteng Boen Bio berlokasi di Jl. Kapasan.

Klenteng Boen Bio ini sudah ada pada tahun 1907-an.

Munculnya klenteng BIO terrsebut sebagai akibat makin meluasnya daerah pecinan di surabaya. Yang dulunya ada disekitar Jl. Kembang Jepun, slompretan, Jl. Coklat dan sekitarnya, lalu berkembang ke arah timur surabaya.

Jl. Dukuh

Klenteng Hok Tek Hian

Klenteng Hok Tek Hian

Tidak diketahui tahun pembangunan Klenteng Hok Tek Hian ini. Klenteng ini diperkirakan telah ada sebelum tahun 1899.

Didepan bangunanKlenteng Hok Tek Kian terdapat Kim Lo (Pagoda  bertingkat 7) landmark untuk masuk masuk ke kampung dukuh.

Pada waktu tertentu klenteng ini mengadakan pertunjukan wayang Po Te Hi. Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis Tionghoa. Pertunjukan wayang ini dimaksudkan agar doa yang dipanjatkan umat terkabul. (sumber brosur surabaya heritage track map, house of sampoerna).

Jl. Taman Apsari, Surabaya

Patung Joko Dolog

Patung Joko Dolog

Ditengah kota Surabaya tepatnya di belakang Taman Apsari terdapat beberapa peninggalan kuno yang merupakan warisan budaya nenek moyang. Salah satu peninggalan tersebut adalah Arca Budha Mahasobya yang lebih dikenal dengan nama JOKO DOLOG.

Biarpun di sebut Patung Joko Dolog, di area situs ini kita tidak hanya menemui patung joko dolog, melainkan juga patung-patung lainya, namun berukuran lebih kecil.

Lokasi ini merupakan salah satu tempat wisata surabaya yang banyak dikunjungi, baik yang bertujuan untuk wisata, maupun orang-orang yang mohon berkah.

Jl. Gresik No 1, Surabaya

Pira Jagad Karana

Pura Jagad Karana

Pura Agung Jagat Karana merupakan tempat ibadah untuk umat Hindu yang berada di Surabaya dan sekitarnya. Selain untuk tempat beribadah dan perayaan hari besar umat Hindu, lokasi ini juga mempunyai daya tarik sebagai tempat wisata surabaya yang banyak dimanfaatkan pengunjung melihat beberapa prosesi peribadatan pada hari besar umat hindu, sabtu malam dan malam bulan purnama. Atau pengunjung melihat keindahan ornamen pura dan perlengkapan peribadatan hanya di sekitar gapura depan. Selain umat Hindu dan tidak sedang dalam keperluan untuk beribadah, pengunjung pura ini tidak diperkenankan oleh petugas untuk  memasuki  bagian dalam kawasan pura.

Pura ini difungsikan pada tanggal 29 November 1969, peresmiannya pertama kali dilakukan oleh Kepala Staf KODAMAR V Komodor Laut R. Sahiran tepatnya pada hari Saraswati.

–M A K A M

Jl. Darmo

Pintu Gerbang makam Ki Ageng Bungkul

Pintu Gerbang makam Ki Ageng Bungkul

Dibagian belakang area Taman Bungkul di Jalan Darmo, terdapat bangunan cagar budaya berupa Situs Makam Sunan Bungkul. Sunan Bungkul merupakan pejuang Islam, nama beliau Syech Machmuddin yang biasa disebut dengan Ki Ageng Bungkul atau Sunan Bungkul.

Dalam Komplek Makam Bungkul ini terdapat sekitar 50 Makam, selain Makam Mbah Bungkul di komplek makam ini juga terdapat Makam Istri Mbah Bungkul, Nyai Ageng Bungkul, Sahabat Mbah Bungkul, Mbah Conggrono, beserta kerabat dan pengikut Mbah Bungkul.

Makam Kyai Sedo Masjid

Makam Kyai Sedo Masjid

Makam Kyai Sedo Masjid terletak di jalan tembaan, tepatnya di kompleks makam tembaan. Seberang jalan Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Makam Tembaan merupakan area makam kuno, di area pemakaman ini  juga terdapat Makam (duplikat) Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Makam Pangeran Pekik yang Asli berada di Dusun Banaran, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri.

Kyai Sedo Masjid merupakan pejuang Islam yang gugur, karena mempertahankan pengusuran Masjid oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Cungkup Makam WR. Supratman

Cungkup Makam WR. Supratman

Makam WR. Supratman berada di Jalan Kenjeran, atau seberang jalan Tempat Pemakaman Umum Rangkah. Komplek makam WR. Supratman terawat, cukup luas dan teduh oleh pohon kamboja berbunga merah dan putih. Komplek makam ini terdiri dari pusara WR. Supratman, Cungkup, tembok prasasti dan monumen WR. Supratman.

Pusara Wr. Supratman terlihat unik berbentuk siluet biola di bawah siluet biola ini sepenggal lagu karang WR. Supratman. Di atas pusaran dibangun cungkup berbentuk joglo berfungsi melindungi pusara dan peziarah yang duduk disekitar pusara.

Diseberang depan joglo terdapat tembok Prasasti yang menceritakan riwayat pahlawan Nasional ini. Disampingnya berdiri monumen WR. Supratman tengah memainkan Biola berlatar belakang tembok berbentuk melengkung yang terukir teks lagu Indonesia lama versi dan ejaan lama.

Ke empat bangunan tersebut; pusara berbentuk siluet biola, joglo, tembok prasasti dan Monumen WR. Supratman berupaya menghadirkan sosok WR. Supratman dan Perjuanganya merebut kemerdekaan lewat Biola.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s