Mengunjugi Sumur Kuno dan Menikmati suasana pedesaan

 

wp-image-560725115jpeg.jpegMinggu lalu kita berkunjungi ke kampung sumur welut untuk menengok sumur kuno, tapi kita tidak menyangka di sana suasananya masih suasana pedesaan. Endingnya aku terkesan bukan hanya pada sumur kuno yang memiliki cerita mistis, tapi juga terkesan dengan suasana asri dan teduh di tempat tersebut.

Kota surabaya kota terbesar ke dua setelah kota jakarta. Di kota metropolis seperti ini (saat tulisan ini dibuat) masih bisa kita dapati suasana pedesaan.

Nuansa tersebut kita jumpai saat masuk kawasan situs sumur welut. Anda bisa menikmati suasana asri dan teduh. 

Jalan di kampung ini berbeda dengan jalan-jalan di tengah kota yang “lempeng” lurus, serta datar, sedangkan jalan utama kampung sumur welut naik-turun (biarpun naik dan turunnya tidak terlalu dratis), serta berkelok-kelok. Mengingatkan aku pada karakter jalan di pengunungan.

Sekedar meng-ingatkan lebih baik kita berhati-hati berkendaraan disini, karena banyak tikungan.

Jika di tengah kota surabaya banyak peninggalan bangunan bersejarah, maka di pinggiran surabaya tidak sedikit jumlah peninggalan situs kuno. Salah satunya sumur welut ini.

Berdasarkan cerita turun temurun, sumur ini dibangun oleh pedagang hasil pertanian dari gresik pada zaman kerajaan mojopahit. Mereka membangun sumur untuk mendapatkan air minum buat kuda mereka yang kelelahan, saat melakukan perjalanan menuju kota sepanjang. 

Seiring perjalanan waktu air sumur ini digunakan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air minum. Hal ini dikarenakan air sumur welut tidak perna kering walau di musim kemarau dan kepercayaan warga, air sumur welut “berkhasiat” daripada air sumur milik warga sekitar.

wp-image-40925839jpeg.jpeg

Saat ini, tentu saja warga sekitar sudah tidak lagi mengunakan air sumur kuno untuk keperluan air minum.

Sebagai tempat pemasok air bersih, tentu air sumur welut jernih… Fakta saat ini kondisi air sumur tidak jernih. Di dasar sumur terlihat sampah dedaunan.

Kesan pandangan pertama terhadap sumur ini, aku tidak melihat sebagai sebuah sumur kuno. Bagiku yang disebut sumur kuno yaitu dindingnya dipenuhi lumut dan tanaman sejenis paku- pakuan. Ciri- ciri tersebut tidak ada pada sumur welut ini. Dinding sumur terlihat baru dengan warna cerah.

Biasanya sumur memiliki dasar yang dalam, lain halnya dengan sumur welut terlihat dangkal, dasar sumur terlihat. Kalau kedalaman sumur kuno dari dulu dangkal seperti ini, aku cenderung menyebutnya, maaf sumber mata air daripada sumur.

Kalau dilihat dari atas, letak area sumur welut berada di bawah dari jalan raya, Bentuk sumur menyerupai kolam. Pagar tembok atau dinding sumurlah yang menimbulkan persepsi demikian. 

Terkait nama…pada mulanya sumur tidak  memiliki nama. Baru ketika beberapa warga melihat di dalam sumur terdapat welut (belut) besar, maka sejak saat itu disebut sumur welut.

Perkara hewan welut penghuni sumur pun menarik, ada yang mengatakan hewan tersebut asli hewan, ada yang menyakini hewan tersebut hewan jadi-jadian.

Melihat kondisi dasar sumur yang banyak dedaunan bukankah tempat tinggal ideal bagi belut.
Di dalam area sumur kuno selain sumur, terdapat 3 hal lain yang dinyakini warga sebagai tempat kramat, yaitu pendopo, 3 kolam ikan dan beberapa pohon kramat.
Beberapa hal yang aku sebutkan tadi, baru ada belakangan sesudah kehadiran sumur kuno. Namun kehadiranya menambah kian kental nuansa mistis area sumur welut.

Berikut ini nuansa mistis atau cerita mistis dari 3 hal tersebut.Cerita mistis ini tidak saling berkaitan satu sama lain

Dengan status sumur welut sebagai tempat kramat, kental dengan nuansa dan cerita mistis. Bagi penganut ajaran kejawen lokasi ini tempat yang sesuai untuk melakukan ritual tertentu. Oleh sebab itu dibangun sebuah pendopo, mereka bisa melakukan ritual  Salah satunya berupa semedi.

Berada di langit-langit pendopo tergantung tulisan tentang pegangan hidup. Tulisan tersebut berbahasa jawa halus, aku sendiri tidak paham artinya.

Yang saya pahami Sumur welut mengajarkan, tentang filsafat air, air sebagai sumber kehidupan.

Cerita mistis lainnya berasal dari kolam ikan. Warga sekitar sengaja membuat 3 kolam ikan untuk berternak ikan mas, namun tidak mengira -konon-ikan bisa mengucapkan terimakasih sesudah diberi makan.


Beberapa pohon di area sumur dikramatkan, diantaranya pohon beringin berukuran besar. Pohon keramat tersebut diselimuti kain. Beda dengan kebiasaan orang di pulau bali menyelimuti pohon keramat dengan kain bermotif kotak-kotak, di sini diselimuti dengan kain berwarna putih.

Meskipun suasana sumur welut terasa mistis, namun tempat ini tidaklah angker bagi saya  Bagi saya cerita dan suasana mistik baik bagi kelestarian area sumur kuno. Warga yang percaya dengan kekramatnya menjadi menghargai dan menjaga peninggalan leluhur kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s